Wednesday, February 8, 2012

Faktor penyebab gizi buruk pada balita

Faktor yang Secara Langsung Mempengaruhi Kejadian Gizi Buruk pada Anak Balita


Kejadian Gizi Buruk pada anak balita mengarah pada kondisi kurang gizi pada anak balita. Kondisi kurang gizi ini secara langsung dapat dipengaruhi oleh:

a. Konsumsi makanan yang tidak adekuat

Konsumsi makanan yang tidak adekuat mengarah pada bahwa makanan yang dikonsumsi oleh anak balita kurang memenuhi jumlah dan komposisi zat gizi yang memenuhi syarat gizi seimbang. Konsumsi makan yang tidak seimbang akan menimbulkan ketidakcukupan pasokan zat gizi ke dalam sel-sel tubuh (Indrawani dalam Departemen Gizi dan Kesehatan Masyarakat FKM-UI, 2007).

Defisiensi zat gizi yang paling berat dan meluas terutama di kalangan anak¬anak ialah akibat kekurangan zat gizi sebagai akibat kekurangan konsumsi makanan dan hambatan mengabsorbsi zat gizi. Zat energi digunakan oleh tubuh sebagai sumber tenaga yang tersedia pada makanan yang mengandung karbohidrat, protein yang digunakan oleh tubuh sebagai pembangun yang berfungsi memperbaiki sel-sel tubuh. Kekurangan zat gizi pada anak disebabkan karena anak mendapat makanan yang tidak sesuai dengan kebutuhan pertumbuhan badan anak atau adanya ketidakseimbangan antara konsumsi zat gizi dan kebutuhan gizi dari segi kuantitatif maupun kualitatif (Sjahmien, 2003).

Menurut Soekirman (1999) dalam Made Amin et al. (2004) menyatakan bahwa penyebab dari tingginya prevalensi gizi kurang secara langsung adalah adanya asupan gizi yang tidak sesuai antara yang dikonsumsi dengan kebutuhan tubuh, dimana asupan gizi secara tidak langsung dipengaruhi oleh pola pengasuhan terhadap anak yang diberikan oleh ibu. Hal ini senada dengan pernyataan Irawan (2004) yang menyebutkan bahwa gizi kurang dan gizi buruk adalah manifestasi karena kurangnya asupan dari protein dan energi dalam makanan sehari-hari sehingga tidak memenuhi AKG dan biasanya juga terdapat kekurangan dari beberapa nutrisi lainnya. Konsumsi makanan yang tidak adekuat ini erat pula kaitannya dengan keadaan infeksi pada anak balita. Anak yang tidak cukup mendapatkan makanan maka daya tahannya akan melemah sehingga mudah diserang infeksi yang akan mengurangi nafsu makan sehingga pada akhirnya dapat menderita gizi kurang (Proyek Perbaikan Gizi Masyarakat, 2001).

b. Konsumsi makanan PMT-P yang tidak adekuat

Salah satu upaya pemerintah dalam mengatasi gizi buruk adalah dengan PMT-P. PMT-P bertujuan memulihkan keadaan gizi anak balita gizi buruk melalui pemberian makanan dengan kandungan gizi yang terukur sehingga kebutuhan gizi balita terpenuhi. Sasaran PMT-P adalah anak balita gizi buruk yang dirawat di tingkat rumah tangga (Wonatorey et al., 2006). Terpenuhinya kebutuhan gizi anak balita tergantung dari asupan zat gizi anak balita. Bagi anak balita gizi kurang ataupun gizi buruk yang mendapat PMT-P, maka asupan zat gizi anak balita yang dimaksud adalah semua makanan dan minuman yang dikonsumsi oleh anak balita dalam satu hari sebelumnya, terdiri dari makanan yang berasal dari paket PMT-P dan makanan yang diberikan sehari-hari (Wonatorey et al., 2006). Dalam penelitiannya, Made Amin et al. (2004) mengungkapkan bahwa semakin baik asupan gizi maka semakin baik status gizi anak dan ditemukan adanya hubungan yang bermakna. Hal ini sejalan dengan yang dikemukakan Soekirman (1999) bahwa asupan gizi berpengaruh pada status gizi yang baik akan tercipta status gizi yang baik (Made Amin et al., 2004). Oleh karena itu, konsumsi makanan PMT-P yang tidak adekuat juga akan berpengaruh terhadap status gizi anak balita.

c. Penyakit infeksi

WHO (1976) dalam Suryono dan Supardi (2004) mengidentifikasikan faktor-faktor yang berpengaruh terhadap status gizi adalah infeksi, distribusi zat gizi pada anggota keluarga, ketersediaan pangan serta penghasilan rumah tangga. Anak-anak dengan gizi buruk daya tahannya menurun sehingga mudah terserang infeksi. Penyakit infeksi yang sering diderita oleh anak dengan gizi buruk adalah diare dan ISPA (United Nation, 1997 dalam Suryono dan Supardi, 2004). Kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa anak gizi buruk dengan gejala klinis umumnya disertai dengan penyakit infeksi seperti diare, ISPA, tuberkulosis (TB) serta penyakit infeksi lainnya (Direktorat Bina Gizi Masyarakat, 2007). Menurut Scrimshaw et al. (1959) dalam Supariasa (2001) menyatakan bahwa ada hubungan yang sangat erat antara infeksi (bakteri, virus, dan parasit) dengan malnutrisi. Mereka menekankan interaksi yang sinergis antara malnutrisi dengan penyakit infeksi dan juga infeksi akan mempengaruhi status gizi dan mempercepat malnutrisi. Mekanisme patologisnya dapat bermacam-macam, baik secara sendiri-sendiri maupun bersamaan, yaitu:

1) Penurunan asupan zat gizi akibat kurangnya nafsu makan, menurunnya absorpsi, dan kebiasaan mengurangi makan pada saat sakit;

2) Peningkatan kehilangan cairan atau zat gizi akibat penyakit diare, mual atau muntah dan perdarahan yang terus-menerus;

3) Meningkatnya kebutuhan, baik dari peningkatan kebutuhan akibat sakit (human host) dan parasit yang terdapat di dalam tubuh.

d. Penyakit bawaan

Penyebab Gizi buruk sangat banyak dan bervariatif. Beberapa faktor bisa berdiri sendiri atau terjadi bersama-sama. Di Kabupaten Kulonprogo, Gizi Burukala Dinas Kesehatan Kulonprogo, dr.Lestaryono, Mkes. mengungkapkan bahwa cukup banyak anak gizi buruk di Kabupaten Kulonprogo yang faktor utama penyebabnya adalah penyertaan penyakit bawaan seperti hydrocephalus dan jantung bawaan dimana tingkat keberhasilan penyembuhannya relatif kecil (Judarwanto, 2008).

e. Berat Bayi Lahir Rendah (BBLR)

Bayi baru lahir memerlukan kebutuhan yang sangat spesifik karena pada hari-hari pertama kehidupannya memerlukan adaptasi fisiologis dan psikologis dari lingkungan intrauterin ke lingkungan ekstrauterin. Perawatan yang dibutuhkan terutama berhubungan dengan pemenuhan kebutuhan nutrisi, kebersihan diri, perawatan tali pusat dan kebutuhan istirahat tidur (Sacharin, 1996 dalam Rohmah et al., 2008). Pada bayi dengan berat lahir rendah maka perlu dilakukan perawatan yang lebih ekstra terutama terkait dengan pemenuhan kebutuhan nutrisi bayi, karena akan berpengaruh terhadap status gizinya. Bayi berat lahir rendah (BBLR) adalah bayi yang lahir kurang dari 2500 gram (2,5 kilogram). Bayi BBLR prematur atau kecil untuk umur kehamilannya (Moore dalam Melfiati, Ed., 1994). Hadi (2005) menyebutkan bahwa keadaan risiko pada anak balita gizi kurang dimulai pada bayi dengan BBLR yang mempunyai risiko lebih tinggi untuk meninggal dalam lima tahun pertama kehidupan. Bayi non BBLR dengan asupan gizi kurang dari kebutuhan serta masa rentan terinfeksi kuman penyakit di awal kehidupan dapat mengakibatkan penurunan status gizi. Angka teringgi yang menunjukkan adanya penurunan status gizi anak balita lahir non BBLR di Indonesia terdapat pada kelompok umur 18–24 bulan (Hadi, 2001 dalam Hadi, 2005). Semakin kecil dan semakin prematur bayi maka semakin tinggi risiko gizinya (Moore dalam Melfiati, Ed., 1994).

2.4.2 Faktor yang Secara Tidak Langsung Mempengaruhi Kejadian Gizi Buruk pada Anak Balita

a. Karakteristik Anak Balita

1) Umur

Anak balita (bawah lima tahun) atau berumur 0-59 bulan merupakan kelompok umur yang paling rentan menderita KEP karena sedang dalam masa pertumbuhan sehingga memerlukan asupan gizi yang memadai baik kualitas maupun kuantitasnya (Soeditama, 2004). Masa kanak-kanak 1-5 tahun merupakan masa dimana kegiatan fisik anak meningkat. Menurut Muaris (2006), pertumbuhan seorang anak pada usia balita sangat pesat sehingga memerlukan asupan gizi yang sesuai dengan kebutuhannya. Berdasarkan hal tersebut, apabila asupan gizi pada masa balita tidak tercukupi maka akan mengarah pada kondisi kenaikan berat badan yang tidak memadai sehingga anak balita menjadi BGM. Selain itu, usia balita terutama pada usia 1-3 tahun merupakan masa pertumbuhan yang cepat (growth spurt), baik fisik maupun otak sehingga memerlukan kebutuhan gizi yang paling banyak dibandingkan masa-masa berikutnya. Pada masa ini anak sering mengalami kesulitan makan, apabila kebutuhan nutrisi tidak ditangani dengan baik maka akan mudah terjadi kekurangan energi protein (Marizza, 2006).

2) Jenis Kelamin

Menurut Almatsier (2005), tingkat kebutuhan pada anak laki-laki lebih banyak jika dibandingkan dengan perempuan. Begitu juga dengan kebutuhan energi, sehingga laki-laki mempunyai peluang untuk menderita KEP ysng lebih tinggi daripada perempuan apabila kebutuhan akan protein dan energinya tidak terpenuhi dengan baik. Kebutuhan yang tinggi ini disebabkan aktivitas anak laki-laki lebih tinggi dibandingkan dengan anak perempuan sehingga membutuhkan gizi yang tinggi. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Suryono dan Supardi (2004), yang menyatakan bahwa jumlah anak balita yang mengalami KEP maupun Non-KEP mayoritas perempuan (58,5%). Selain itu hasil penelitian yang dilakukan oleh Dewi (2008), menunjukkan bahwa sebanyak 61,6% anak balita perempuan memiliki nafsu makan yang kurang sehingga mempengaruhi pola konsumsi dan tingkat konsumsi yang akan mempengaruhi status gizi pada anak balita.

3) Jarak Kelahiran

Jarak kelahiran anak yang terlalu dekat dan jumlah anak yang terlalu banyak akan mempengaruhi asupan zat gizi dalam keluarga (Supariasa et al., 2001). Keluarga dengan banyak anak apalagi yang selalu ribut akan berpengaruh pada ketenangan jiwa dan secara tidak langsung akan menurunkan nafsu makan (Soetjiningsih, 1998). Sebuah keluarga yang memiliki jarak kelahiran yang terlalu dekat dengan anak sebelumnya akan mengalami kerepotan untuk mengurusnya karena anak-anak tersebut masih belum bisa mandiri mengurus dirinya sendiri.

4) Nomor Urut Anak

Dalam acara makan bersama seringkali anak-anak yang lebih kecil mendapatkan jatah yang kurang mencukupi (Apriadji, 1986). Jumlah anak yang banyak pada keluarga yang keadaan sosial ekonominya cukup akan mengakibatkan berkurangnya perhatian dan kasih sayang yang diterima anak. Sedangkan pada keluargha dengan keadaan sosial ekonomi yang kurang, jumlah anak yang banyak akan mengakibatkan selain kurangnya kasih sayang dan perhatian pada anak juga kebutuhan primer seperti makanan, sandang, dan perumahan pun tidak terpenuhi (Soetjiningsih, 1998). Terkait dengan kejadian kurang energi protein, nomor urut anak berhubungan dengan prioritas gizi dalam keluarga. Prioritas gizi yang salah pada keluarga menunjuk pada kondisi yang biasanya lebih memprioritaskan makanan untuk anggota keluarga yang lebih besar (sepertia ayah atau kakak tertua) dibandingkan anak balita (terutama yang berusia dibawah dua tahun) sehingga apabila makan bersama-sama maka anak balita akan kalah (Rasni, 2009).

b. Karakteristik Sosial Ekonomi Keluarga

1) Jumlah Anggota Keluarga

Banyaknya anggota keluarga akan mempengaruhi konsumsi pangan. Menurut Suhardjo (dalam Wahid, 2007) mengatakan bahwa hubungan sangat nyata antara besar keluarga dan kurang gizi pada masing-masing keluarga. Jumlah anggota keluarga yang semakin besar tanpa diimbangi dengan meningkatnya pendapatan akan menyebabkan pendistribusian konsumsi pangan akan semakin tidak merata. Pangan yang tersedia untuk suatu keluarga besar mungkn hanya cukup untuk mencegah timbulnya gangguan gizi pada keluarga besar. Seperti juga yang dikemukakan Berg dan Sayogyo (1986), bahwa jumlah anak yang menderita kelaparan pada keluarga besar, empat kali lebih besar dibandingkan dengan keluarga kecil. Anak-anak yang mengalami gizi kurang pada keluarga beranggota banyak, lima kali lebih besar dibandingkan dengan keluarga beranggota sedikit. Hal ini didukung oleh pendapat Apriadi (1986) bahwa semakin besar jumlah anggota keluarga maka pengeluaran untuk makan besar pula dan proporsi makan setiap individu keluarga akan berkurang sehingga mereka memperoleh makanan dengan kuantitas dan kualitas yang rendah. Hasil penelitian yang dilakukan Alam (2002), juga menyatakan bahwa anak dalam keluarga kecil memiliki pola dan tingkat konsumsi makanan yang lebih baik jika dibandingkan dengan anak dalam keluarga besar.

2) Tingkat Pendidikan Ibu

Ibu merupakan pendidikan pertama dalam keluarga, untuk itu ibu perlu menguasai berbagai pengetahuan dan keterampilan. Pendidikan ibu disamping merupakan modal utama dalam menunjang perekonomian rumah tangga juga berperan dalam pola penyusunan makanan untuk rumah tangga. Sanjur (dalam Wahid, 2002) menyatakan bahwa tingkat pendidikan formal ibu rumah tangga berhubungan positif dengan perbaikan dalam pola konsumsi pangan keluarga dan pola pemberian makanan pada bayi dan anak. Tingkat pendidikan akan mempengaruhi konsumsi melalui pemilihan bahan pangan. Orang yang berpendidikan lebih tinggi cenderung memilih makanan yang lebih baik dalam jumlah dan mutunya dibandingkan mereka yang berpendidikan lebih rendah (Moehdji, 2002). Hal ini diperkuat oleh hasil penelitian yang dilakukan oleh Suryono dan Supardi (2004), yang menyebutkan bahwa faktor pendidikan ibu yang kurang dari SMA memiliki kemungkinan 1,3 kali lebih banyak terjadinya status gizi kurang pada anak batita dibandingkan ibu yang berpendidikan lebih dari SMA.

Menurut Nency dan Arifin (dalam Wahid, 2007) dari studi yang telah dilakukan, pola pengasuhan anak berpengaruh terhadap timbulnya gizi buruk. Anak yang diasuh ibunya sendiri dengan kasih sayang, apalagi ibunya berpendidikan, mengerti soal kecukupan gizi untuk anak meskipun dalam keadaan miskin ternyata anaknya lebih baik. Unsur pendidikan perempuan berpengaruh pada kualitas pengasuhan anak.

Kurangnya pendidikan, pengetahuan, dan ketrampilan keluarga untuk dapat memecahkan masalah gizi keluarga dan masyarakat sangat berpengaruh terhadap kondisi keluarga tersebut terutama tentang pola asuh anak. Kurangnya pendidikan dan pengetahuan tentang pola asuh anak dapat menyebabkan pola asuh anak yang tidak memadai sehingga mengakibatkan anak tidak suka makan atau tidak diberikan makanan seimbang dan juga dapat memudahkan terjadinya infeksi yang berakhir dengan kondisi KEP (Soekirman, 2000).

3) Status Pekerjaan Ibu

Menurut Siswono (dalam Adhawiyah, 2005) kehidupan ekonomi keluarga akan lebih baik pada keluarga dengan ibu bekerja jika dibandingkan dengan kelurga yang hanya menggantungkan kehidupan ekonomi pada kepala keluarga atau ayah. Kehidupan ekonomi keluarga yang lebih baik akan memungkinkan keluarga mampu memberikan perhatian yang layak bagi asupan gizi balita. Irawan (dalam Adhawiyah, 2005) seorang ibu bekerja adalah ibu yang tiga hari atau lebih dalam seminggu meninggalkan bayinya 4 jam/hari atau lebih dalam satu waktu. Padahal disis lain menurut Handayani (dalam Adhawiyah, 2005) seorang anak usia 0-5 tahun masih sangat tergantung dengan ibunya. Balita masih perlu bantuan dari orang tua untuk melakukan tugas pribadinya dan mereka akan belajar dari hal-hal yang dilakukan oleh orang-orang disekitarnya. Ibu yang bekerja akan mengurangi kuantitas untuk menemani anaknya dirumah. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Sari (2005), menyatakan bahwa anak yang memiliki ibu tidak bekerja memiliki status gizi yang lebih baik dibandingkan anak balita yang memiliki ibu yang bekerja.

4) Pendapatan Keluarga

Pendapatan keluarga adalah jumlah semua hasil perolehan yang didapat oleh anggota keluarga dalam bentuk uang sebagai hasil pekerjaannya. Menurut Sayogjo (dalam Wahid, 2007) menyatakan bahwa pendapatan keluarga meliputi penghasilan ditambah dengan hasil-hasil lain. Pendapatan keluarga mempunyai peranan penting terutama dalam memberikan efek terhadap taraf hidup mereka. Efek disini lebih berorientasi pada kesejahteraan dan kesehatan, dimana perbaikan pendapatan akan meningkatkan tingkat gizi masyarakat. Pendapatan akan menentukan daya beli terhadap pangan dan fasilitas lain (pendidikan, perumahan, kesehatan) yang dapat mempengaruhi status gizi. Adanya hubungan antara pendapatan dan status gizi telah banyak dikemukan para ahli.

Pertambahan pendapatan tidak selalu membawa perbaikan pada konsumsi pangan, karena waluapun banyak pengeluaran uang untuk pangan, mungkin akan makan lebih banyak, tetapi belum tentu kualitas pangan yang dibeli lebih baik. Terdapat hubungan antara pendapatan dan keadaan status gizi (Berg dan Sayogyo, 1986). Hal itu karena tongkat pendapatan merupakan faktor yang menentukan kuantitas dan kualitas makanan yang dikonsumsi. Sejak lama telah disepakati bahwa pendapatan merupakan hal utama yang berpengaruh terhadap kualitas menu.

Dari uraian tersebut dapat diketahui bahwa antara pendapatan dan gizi, jelas ada hubungan yang menguntungkan. Berlaku hampir universal, peningkatan pendapatan akan berpengaruh terhadap perbaikan kesehatan dan kondisi keluarga dan selanjutnya berhubungan dengan status gizi. Namun peningkatan pendapatan atau daya beli seringkali tidak dapat mengalahkan pengaruh kebiasaan makan terhadap perbaikan gizi yang efektif (Wahid, 2007).

5) Tingkat Pengetahuan Gizi Ibu

Tingkat pengetahuan gizi ibu yang baik dan dilakukan secara terus menerus dapat mengatasi kesalahpahaman yang terjadi tentang pantangan konsumsi makanan tertentu menurut adat atau kebiasaan yang merupakan tradisi turun temurun. Pantangan untuk menggunakan bahan makanan tertentu yang sudah turun temurun dapat mempengaruhi KEP (Pudjiadi, 2001). Menurut Notoatmodjo (2003), menyatakan bahwa terdapat tiga tahapan perilaku yaitu tahu, sikap, dan perilaku itu sendiri. Pengetahuan merupakan hasil dari tahu dan terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu, sikap merupakan reaksi atau respon yang masih tertutup dari seseorang terhadap suatu stimulus atau objek. Sikap belum merupakan suatu tindakan atau aktivitas, akan tetapi merupakan predisposisi tindakan suatu perilaku. Untuk mewujudkan sikap menjadi suatu perbuatan nyata diperlukan faktor pendukung atau kondisi yang memungkinkan. Menurut Gerungan (2004), sikap memiliki segi motivasi untuk bertindak, yaitu segi dinamis menuju ke suatu tujuan. Sikap yang tidak disertai oleh kesediaan dan kecenderungan bertindak sesuai dengan pengetahuan merupakan sikap yang berbeda dari kebiasaan tingkah laku. Dalam penelitian Sitorini (2006), menyatakan bahwa sikap responden yang baik belum tentu mendukung praktek yang baik pula. Menurut hasil penelitian oleh Nugrahani (2005), terdapat hubungan yang bermakna mengenai pengetahuan ibu tentang pola pemberian dan jenis makanan pendamping ASI dengan pola pemberian makanan pendamping ASI pada bayi. Dimana semakin tinggi pengetahuan ibu maka ibu akan memberikan makanan pendamping ASI dengan pola yang benar dan sebaliknya ibu yang mempunyai pengetahuan yang rendah maka akan memberikan makanan pendamping ASI yang salah.

c. Peran keluarga

Keluarga adalah kumpulan orang yang tinggal bersama pada satu tempat tinggal yang disatukan dengan ikatan perkawinan dan/ darah dan/ adopsi pada dua generasi (keluarga inti) (BKKBN Jember, 2008 dalam Rasni, 2009). Lima fungsi dasar keluarga adalah fungsi afektif, fungsi sosialisasi, fungsi asuhan kesehatan, fungsi reproduksi dan fungsi ekonomi (Friedman et al., 2003 dalam Rasni, 2009). Terkait dengan fungsi asuhan kesehatan tersebut, keluarga yang berperan baik akan dapat melakukan pemberian asupan makanan anak balita sesuai kebutuhannya, terutama orang tua khususnya ibu mempunyai andil yang besar dalam pemberian asupan makanan atau nutrisi pada anak balita (Rasni, 2009).

Peran ibu dalam keluarga khususnya dalam rangka pemenuhan asupan nutrisi pada anak balita berhubungan dengan tingkat pendidikan ibu, jenis pekerjaan ibu dan tingkat pengetahuan ibu tentang gizi. Wanita yang berpendidikan lebih rendah atau tidak berpendidikan biasanya mempunyai anak lebih banyak dibandingkan yang berpendidikan lebih tinggi. Mereka yang berpendidikan rendah umumnya tidak dapat/sulit diajak memahami dampak negatif dari mempunyai banyak anak (Khomsan dan Kusharto dalam Khomsan et al., 2004). Pendidikan yang rendah, terutama pada perempuan yang umumnya berperan di sektor domestik atau menjadi pengasuh dari anggota keluarga akan menyebabkan anak tidak cukup mendapat makanan bergizi seimbang, tidak mendapat ASI Eksklusif, tidak mendapat MP-ASI yang tepat serta kurang mendapat zat gizi makro dan mikro dalam kuantitas dan kualitas yang cukup (Soekirman, 2001 dalam Rasni, 2009).

Selain itu, tingkat pendidikan berhubungan dengan status gizi karena dengan meningkatnya pendidikan, kemungkinan akan meningkatkan pendapatan sehingga dapat meningkatkan daya beli makanan (Hartriyanti dan Triyanti dalam Departemen Gizi dan Kesehatan Masyarakat FKM-UI, 2007). Terkait dengan pekerjaan ibu, dalam penelitian Suryono dan Supardi (2004) disebutkan bahwa pekerjaan ibu secara statistik tidak berhubungan dengan status gizi anak batita, namun pekerjaan memiliki OR 5.26 yang berarti jika ibu bekerja maka kemungkinan 5.26 kali lebih banyak pengaruhnya terhadap terjadinya gizi buruk dibandingkan ibu yang tidak bekerja. Keterbatasan pengetahuan ibu tentang gizi merupakan faktor penyebab tidak langsung timbulnya masalah gizi buruk. Pengetahuan gizi ibu adalah tingkat pemahaman ibu tentang pertumbuhan anak balita, perawatan dan pemberian makan anak balita gizi buruk dan pemilihan serta pengolahan makanan anak balita gizi buruk.

Dalam penelitian Wonatorey et al. (2006) disebutkan bahwa peningkatan status gizi anak balita gizi buruk kemungkinan dipengaruhi oleh meningkatnya pengetahuan gizi ibu dalam pengolahan dan perawatan anak balita gizi buruk melalui konseling gizi. Peningkatan pengetahuan gizi ibu ini mempengaruhi praktek pemberian makanan Gizi Burukada anak balita terutama Gizi Burukatuhan ibu dalam memberikan intervensi PMT-P yang diberikan Gizi Burukada anak balita. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian Susie et al. (2002) dalam Wonatorey et al. (2006) menyatakan bahwa penanggulangan gizi buruk, menunjukkan perubahan status gizi baru bisa dilihat setelah anak yang menderita gizi buruk mengikuti program rehabilitasi atau pemulihan selama 6 bulan mencakup aspek media, dietetik dan edukatif.

d. Pola asuh

Menurut Marian Zeitien (2000), pola asuh gizi adalah praktek di rumah tangga yang diwujudkan dengan tersedianya pangan dan Perawatan kesehatan serta sumber lainnya untuk kelangsungan hidup, pertumbuhan dan perkembangan anak. Sedangkan menurut Soekirman (2000), pola asuh adalah berupa sikap dan perilaku ibu atau pengasuh lain dalam hal memberi makan, kebersihan, memberi kasih sayang dan sebagainya kesemuanya berhubungan dengan keadaan ibu dalam hal kesehatan (fisik dan mental).

Menurut Satoto (1990), peranan sosial ekonomi keluarga ternyata tidak konsisten sebagai determinan pertumbuhan dan perkembangan anak, karena yang penting bukan keadaan sosial ekonomi itu sendiri, melainkan bagaimana interaksi antara ibu dan anak serta lingkungan dalam mempengaruhi pertumbuhan anak.

Pemasalahan yang sering timbul pada anak dengan gizi kurang pada keluarga sejahtera sebenarnya disebabkan karena anak tersebut selalu menolak makanannya. Kadang-kadang anak menolak maka karena ibunya memberi terlalu banyak perhatian. Anak senang mendapat perhatian sehingga cepat mengetahui bahwa untuk memperolehnya ia menolak makan. Jika dalam keadaan ini anak kemudian dipaksa makan maka akan menimbulkan emosi padanya. Emosi dapat menurunkan produksi cairan lambung hingga menghambat fungsi pencernaanya (Solihin, 1990).

Penolakan makan pada anak kadang juga terjadi karena taste/rasa makanan yang diberikan tidak disukai anak. Namun hal ini tidak disadari oleh para ibu karena menganggap makanan yang diberikan sudah sesuai dengan kondisi anak. Hal ini terutama terjadi pada makanan yang berasal dari produk pabrik. Seharusnya sebelum makanan diberikan pada anak, setidaknya ibu mencicipi makanan tersebut untuk mengetahui taste yang paling disukai anak. Secara psikologis ibu sering kali terpengaruh oleh tekstur makanan yang berbentuk halus sehingga enggan untuk mencicipi (Pattinama, 2000).

Berdasarkan penelitian LIPI (1990), anak-anak yang selalu mendapat tanggapan, respond dan pujian dari ibunya menunjukkan keadaan gizi yang lebih baik. Anak membutuhkan sentuhan ibunya secara merasa dilindungi, Karena pada dasarnya seorang anak sangat membutuhkan kehadiran ibu yang merupakan nuansa yang sulit dapat digantikan orang lain (Utoyo, 2000). Menurut Pattinama (2000), seorang ibu yang bekerja diluar rumah mempunyai kesulitan dalam memenuhi kebutuhan anak, baik fisik maupun psikis, terutama kebutuhan akan perawatan yang baik, rangsangan yang memadai sehingga anak memperoleh aspan gizi yang seimbang. Sebenarnya hal ini dapat teratasi jika ibu dapat melakukan hal sederhana yang dapat menyenangkan anak, misalnya dengan meluangkan sedikit waktu bersama anak.

Penelitian yang dilakukan Made Amin et al. (2004) menunjukkan adanya hasil uji statistik yang bermakna antara pola asuh dengan status gizi yang artinya semakin baik pola asuh semakin baik status gizi. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Bibi (2001) dalam Made Amin et al. (2004) bahwa dengan adanya pola asuh yang baik utamanya asuhan gizi maka status gizi akan semakin baik. Pola asuh yang kurang baik berhubungan dengan pola pemberian ASI dan MP-ASI yang kurang baik serta prioritas gizi yang salah dalam keluarga. Adapun aspek kunci pola asuh gizi adalah :

1) Perawatan dan Perlindungan Bagi Anak

Setiap orang tua berkewajiban uintuk memberikan Perawatan dan perlindungan bagi anaknya. Masa lima tahun pertama merupakan masa yang akan menentukan pembentukan fisik, psikis, maupun intelengensinya sehingga masa ini mendapatkan Perawatan dan perlindungan yang intensif (Dina Agoes dan Maria Poppy, 2001).

Bentuk Perawatan bagi anak dimulai sejak bayi lahir sampai dewasa misal sejak bayi lahir yaitu memotong pusar bayi, pemberian makan dan sebagainya. Perlindungan bagi anak berupa pengawasan waktu bermain dan pengaturan tidur.

2) Pemberian ASI

Menyusui adalah proses memberikan ASI pada bayi. Pemberian ASI berarti menumbuhkan kasih sayang antara ibu dan bayinya yang akan sangat mempengaruhi tumbuh kembang dan kecerdasan anak dikemudian hari. ASI diberikan setelah lahir biasanya 30 menit setelah lahir. Kolostrum merupakan salah satu kandungan ASI yang sangat penting yang keluar 4 -6 hari pertama. Kolostrum berupa cairan yang agak kemtal dan kasar serta berwarna kekuning-kuningan terdiri dari banyak mineral (natrium, kalium, dan klorida) vitamin A, serta zat-zat anti infeksi penyakit diare, pertusis, difteri, dan tetanus. Sampai bayi berumur 6 bulan hanya diberi ASI saja tanpa tambahan bahan makanan dan minuman lain.

Dalam penelitian Suryono dan Supardi (2004) disebutkan bahwa jika tidak diberi ASI eksklusif akan terjadi 2,86 kali kemungkinan batita mengalami Gizi Buruk dan hal tersebut bermakna secara statistik. Menurut Azwar (2000), masih banyak ibu yang tidak memberikan kolostrum pada bayinya. Selain itu, pemberian ASI terhenti karena ibu kembali bekerja. Di daerah kota dan semi perkotaan ada kecenderungan rendahnya frekuensi menyusui dan ASI dihentikan terlalu dini pada ibu-ibu yang bekerja (Soekirman, 2001 dalam Rasni, 2009). Disebutkan pula adanya mitos ataupun Gizi Burukercayaan/ adat-istiadat masyarakat tertentu yang tidak benar dalam pemberian makanan sebelum ASI, yaitu pemberian air kelapa, air tajin, air teh, madu dan pisang. Makanan yang diberikan pada bayi baru lahir sebelum ASI keluar sangat berbahaya bagi kesehatan bayi dan mengganggu keberhasilan menyusui (Azwar, 2000).

3) Pemberian MP-ASI

Pemberian makanan pendamping ASI harus disesuaikan dengan usia balita. Pengaturan makanan baik untuk pemeliharaan, pemulihan, pertumbuhan, serta aktifitas fisik. Makanan pendamping ASI adalah makanan yang diberikan pada bayi yang telah berusia 6 bulan atau lebih karena ASI tidak lagi memenuhi kebutuhan gizi bayi. Pemberian makanan pendamping ASI harus bertahap dan bervariasi dari mulai bentuk bubur kental, sari buah, buah segar, makanan lumat, makanan lembek dan akhirnya makanan padat. Makanan pendamping ASI diberikan pada bayi di samping ASI. Untuk memenuhi kebutuhan gizi anak balita mulai umur 6 bulan sampai umur 24 bulan (Irianton Aritonang, 1994). Azwar (2000) mengungkapkan pemberian MP-ASI yang kurang baik meliputi:

a) Pemberian MP-ASI yang terlalu dini atau terlambat, dimana pemberian MP-ASI sebelum bayi berumur 6 bulan dapat menurunkan konsumsi ASI dan gangguan pencernaan/diare dan jika pemberian MP-ASI terlambat (bayi sudah lewat usia 6 bulan) dapat menyebabkan hambatan pertumbuhan anak;

b) Pemberian MP-ASI pada periode umur 6 – 24 bulan sering tidak tepat dan tidak cukup baik kualitas maupun kuantitasnya. Frekuensi pemberian MP-ASI dalam sehari yang kurang akan berakibat kebutuhan gizi anak tidak terpenuhi;

c) Pemberian MP-ASI sebelum ASI pada usia 6 bulan, dimana pada periode ini zat-zat yang diperlukan bayi terutama diperoleh dari ASI. Memberikan MP-ASI terlebih dahulu berarti kemampuan bayi untuk mengkonsumsi ASI berkurang yang berakibat menurunnya produksi ASI, hal ini dapat berakibat anak menderita kurang gizi.

4) Penyiapan Makanan

Makanan akan mempengaruhi pertumbuhan serta perkembangan fisik dan mental anak. Oleh karena itu makanan harus dapat memenuhi kebutuhan gizi anak. Penyiapan makanan harus dapat mencukupi kebutuhan gizi balita. Pengaturan makanan yaitu pengaturan makanan harus dapat disesuaikan dengan usia balita selain untuk mendapatkan gizi pengaturan makanan juga baik untuk pemeliharaan, pemulihan, pertumbuhan, perkembangan serta aktifitas fisiknya (Dina Agoes dan Maria Popy H, 2001)

Makin bertambah usia anak makin bertambah pula kebutuhan makanannya, secara kuantitas maupun kualitas. Untuk memenuhi kebutuhannya tidak cukup dari susu saja. Saat berumur 1-2 tahun perlu diperkenalkan pola makanan dewasa secara bertahap, disamping itu anak usia 1-2 tahun sudah menjalani masa penyapihan. Adapun pola makan orang dewasa yang diperkenalkan pada balita adalah hidangan serba-serbi dengan menu seimbang yang terdiri dari: (Dina Agoes dan Mary Poppy , 2001)

a) Sumber zat tenaga misalkan roti, nasi, mie, dan tepung-tepungan;

b) Sumber zat pembangun misalkan susu, daging, ikan, tempe, tahu dan kacang- kacangan;

c) Sumber zat pengatur misalkan sayur-sayuran dan buah-buahan.

Masa balita merupakan awal pertumbuhan dan perkembangan yang membutuhkan zat gizi terutama pada masa balita. Kecukupan energi bayi dan balita yaitu 0-1 tahun membutuhkan energi 110-120 Kkal/Kg BB, umur 1-3 tahun membutuhkan energi 100 Kkal/Kg BB, dan umur 4-6 tahun memerlukan 90 Kkal 90 Kkal/kg BB (tabel 2.1).



Tabel 2.1 Kecukupan Energi Bayi dan Balita



UMUR KECUKUPAN ENERGI LAKI-LAKIDAN

PEREMPUAN (Kkal/KgBB)

0-1 110-120

1-3 100

4-6 90

Sumber: Dina Agoes dan Maria Poppy H (2001)

Protein digunakan untuk membangun sel jaringan tubuh, mengganti sel jaringan tubuh yang rusak atau aus, membuat air susu, protein darah dan untuk menjaga keseimbangan asam basa dari cairan tubuh. Kecukupan protein bayi dan balita dalam sehari untuk umur 0-1 tahun memerlukan 2,5 Gr/Kg BB, 1-3 tahun memerlukan 2 Gr/Kg BB, dan 4-6 tahun memerlukan 1,8 Gr/Kg BB (tabel 2.2).



Tabel 2.2 Kecukupan Protein Bayi dan Balita dalam Sehari



UMUR KECUKUPAN PROTEIN (g/Kg BB)

0-1 2,5

1-3 2

4-6 1,8

Sumber: Dina Agoes dan Maria Popy H (2001)



Semakin bertambah usia, air semakin banyak dibutuhkan. Umur 3-10 hari membutuhkan air 80-150 ml/KgBB/hari, 3-9 bulan membutuhkan 125-160 ml/Kg/Hari dan umur 1-5 tahun membutuhkan 100-135 ml/Kg/BB (tabel 2.3).



Tabel 2.3 Kecukupan Air Bayi dan Balita dalam Sehari



KELOMPOK UMUR KEBUTUHAN AIR (ml / Kg BB / Hari )

3 hari 80-100

10 hari 125-150

3 bulan 140-160

6 bulan 130-155

9 bulan 125-145

1 tahun 120-135

2-3 tahun 115-125

4-5 tahun 100-110

Sumber: Dina Agoes dan Maria Popy H (2001)



Pola makanan yang diberikan yaitu menu seimbang sehari-hari, sumber zat tenaga, sumber zat pembangun, dan sunber zat pengatur. Jadwal pemberian makanan bagi bayi dan balita adalah: (Dina Agoes Sulistijani dan Maria Poppy Herlianty, 2003)

a) Tiga kali makanan utama (pagi, siang, malam);

b) Dua kali makanan selingan (diantara dua kali makanan utama).

e. Pengasuhan Psiko-Sosial

Manusia sebagai makhluk sosial pada dasarnya tidak hidup sendiri-sendiri tetapi saling membutuhkan antar sesama dalam kehidupan sehari-hari. Pengasuhan psiko-sosial terwujud dalam pola interaksi dengan anak. Interaksi timbal balik antara anak dan orang tua akan menimbulkan keakraban dalam keluarga.

Pengasuhan psiko-sosial ini antara lain terdiri dari cinta dan kasih sayang serta interaksi antara ibu dan anak. Salah satu hak anak adalah untuk dicintai dan dilindungi. Anak memerlukan kasih sayang dan perlakuan yang adil dari orang tuanya. Pengasuhan psiko-sosial ini didasarkan pada frekuensi interaksi antara ibu dan anak. Meningkatkan kedekatan ibu dan anak ditentukan dengan frekuensi interaksi dan sikap sayang selalu senyum dengan anak (Marian Zeitien, 2001).

f. Kebersihan Diri dan Sanitasi Lingkungan.

Lingkungan merupakan faktor yang sangat mempengaruhi proses tumbuh kembang anak. Peran orang tua dalam membantu proses pertumbuhan dan perkembangan anak adalah dengan membentuk kebersihan diri dan sanitasi lingkungan yang sehat. Hal ini menyangkut dengan keadaan bersih, rapi, dan teratur. Oleh karena itu anak perlu dilatih untuk mengembangkan sifat-sifat sehat seperti berikut ini: (Dina Agoes Sulistijani dan Maria Poppy Herlianty, 2001)

1) Mandi dua kali sehari;

2) Cuci tangan sebelum dan sesudah tidur;

3) Menyikat gigi sebelum tidur;

4) Membuang sampah pada tempatnya;

5) Buang air kecil pada tempatnya atau WC.

Lingkungan yang buruk dapat menyebabkan penyebaran kuman penyakit. Penyebaran kuman ini akan mengarah pada adanya kontribusi infeksi, dimana infeksi dapat menyebabkan kurangnya nafsu makan sehingga menyebabkan asupan makanan menjadi rendah yang akhirnya menyebabkan kurang gizi (Hartriyanti dan Triyanti dalam Departemen Gizi dan Kesehatan Masyarakat FKM-UI, 2007). Dalam penelitian Suryono dan Supardi (2004) disebutkan bahwa kesehatan lingkungan rumah bermakna secara statistik dan memiliki OR 1.8, artinya lingkungan rumah yang tidak baik kemungkinannya 1.8 kali lebih banyak pengaruhnya terhadap terjadinya gizi buruk dibandingkan dengan lingkungan rumah yang baik. Satoto (1990) dalam Made Amin et al. (2004) juga mengungkapkan bahwa hygiene perorangan dan sanitasi lingkungan merupakan faktor yang berpengaruh terhadap status gizi anak.

g. Praktek Kesehatan di Rumah dan Pola Pencarian Pelayanan Kesehatan.

Bayi dan anak perlu diperiksa kesehatannya oleh bidan atau dokter bila sakit sebab mereka masih memiliki resiko tinggi untuk terserang penyakit. Adapun praktek kesehatan yang dapat dilakukan dalam rangka pemeriksaan pemantauan kesehatan adalah:

1) Imunisasi

Imunisasi merupakan pemberian kekebalan agar bayi tidak mudah terserang atau tertular penyakit seperti hepatitis B (HB), tuberkulosis, difteri, batuk rejan, tetanus, folio dan campak. Pemberian imunisasi harus sedini mungkin dan lengkap. BCG diberikan pada usia 2 bulan, DPT 1-3 diberikan pada usia 2-5 bulan, HB 1-3 diberikan pada usia 3-5 bulan dan campak diberikan pada usia 6 bulan (tabel 4).



Tabel 2.4 Jadwal Imunisasi Berdasarkan Standart Nasional



UMUR (Bulan) JENIS IMUNISASI

2 BCG,DPT 1, Polio 1

3 HB 1*, DPT 2, Polio 2

4 HB 2*, DPT 3, Polio 3

5 HB 3*, Polio 3

6 Campak

Sumber: Dina Agoes dan Maria Poppy, (2001)

2) Pemantauan Pertumbuhan anak

Hal ini dapat dilakukan dengan aktif mendatangi kegiatan pemeliharaan gizi, misalkan posyandu. Sebagian aktif mengikuti pemeliharaan gizi maka orang tua dapat melihat pertumbuhan anak melalui penimbangan balita, pemberian vitamin A pada bulan februari dan Agustus serta pemberian makanan tambahan (Dina Agoes dan Maria Poppy, 2001).

h. Prioritas gizi yang salah dalam keluarga

Prioritas gizi yang salah pada keluarga, dimana banyak keluarga yang memprioritaskan makanan untuk anggota keluarga yang lebih besar (seperti ayah atau kakak tertua) dibandingkan anak balita (terutama yang berusia dibawah dua tahun) sehingga apabila makan bersama-sama maka anak yang berusia balita akan kalah (Rasni, 2009).

i. Pelayanan kesehatan

Pelayanan kesehatan terhadap anak balita dapat meliputi pelayanan kesehatan di tingkat Posyandu, Puskesmas dan pelayanan kesehatan lainnya serta terkait pula dengan peran tenaga kesehatan dalam memberikan pelayanan kesehatan. Pelayanan kesehatan yang kurang menjangkau masyarakat atau kurang handalnya pemberi pelayanan kesehatan merupakan satu faktor kemungkinan penyebab masalah gizi kurang (Atmarita dan Fallah, 2004). Dalam penelitian Suryono dan Supardi (2004) disebutkan bahwa penimbangan anak batita secara teratur setiap bulan memiliki OR 3.1, artinya walaupun secara statistik tidak bermakna, secara realita dengan adanya penimbangan maka akan terdapat kontrol terhadap kondisi anak batitanya. Faktanya secara statistik, terdapat kemungkinan 3.1 kali lebih banyak terjadinya gizi buruk pada anak batita yang jarang ditimbang dibandingkan anak batita yang rutin ditimbang setiap bulan di Posyandu.

Penelitian yang dilakukan Made Amin et al. (2004) menunjukkan bahwa perawatan dasar memberikan kontribusi yang lebih besar terhadap status gizi. Hal ini sejalan dengan penelitian Husaini (1996) dalam Made Amin et al. (2004) yang mengemukakan bahwa dalam upaya memperbaiki status gizi anak, dilakukan upaya pencegahan penyakit menyangkut perawatan dasar terhadap anak yaitu dengan pemberian imunisasi secara lengkap, pemberian vitamin A secara berkala (mengikuti bulan pemberian vitamin A) dan upaya perbaikan sanitasi terhadap anak, ibu dan lingkungan.

j. Sosio–budaya dan religi

Kebudayaan suatu masyarakat mempunyai kekuatan yang berpengaruh terhadap pemilihan bahan makanan yang digunakan untuk dikonsumsi. Aspek sosio-budaya pangan adalah fungsi pangan dalam masyarakat yang berkembang sesuai dengan keadaan lingkungan, agama, adat, kebiasaan dan pendidikan masyarakat tersebut. Kebudayaan juga menentukan kapan seseorang boleh atau tidak boleh memakan suatu makanan (tabu), walaupun tidak semua tabu rasional bahkan banyak jenis tabu yang tidak masuk akal. Oleh karena itu, kebudayaan mempengaruhi seseorang dalam konsumsi pangan yang menyangkut pemilihan jenis pangan, pengolahan serta persiapan dan penyajiannya (Mudanijah dalam Khomsan et al., 2004). Suatu pantangan yang berdasarkan agama (Islam) disebut haram hukumnya dan individu yang melanggar pantangan tersebut berdosa. Hal ini disebabkan makanan dan minuman yang dipantangkan mengganggu kesehatan dan jasmani atau rohani bagi pemakannya atau peminumnya. Sementara, pantangan atau larangan yang berdasarkan Gizi Burukercayaan umumnya mengandung perlambang atau nasihat-nasihat yang dianggap baik dan tidak baik yang lambat-laun menjadi kebiasaan (adat), terlebih dalam suatu masyarakat yang masih sederhana. Tiga kelompok masyarakat yang biasanya mempunyai pantangan makan yaitu anak kecil, ibu hamil dan ibu menyusui (Mudanijah dalam Khomsan et al., 2004).

Pangan yang menjadi pantangan (tabu) bagi anak kecil adalah ikan, terutama ikan asin karena dapat menyebabkan cacingan, sakit mata atau sakit kulit. Kacang-kacangan juga tidak diberikan pada anak-anak karena khawatir perut anak akan kembung (Mudanijah dalam Khomsan et al., 2004). Bayi diberikan minum hanya dengan air putih, memberikan makanan padat terlalu dini, berpantang pada makanan tertentu (misalnya tidak memberikan pada anak makanan dari daging, telur dan santan) dapat menghilangkan kesempatan anak untuk mendapat asupan lemak, protein maupun kalori yang cukup (Soekirman, 2001 dalam Rasni, 2009).

2.4.3 Pendapatan keluarga

Usaha yang dilakukan untuk meningkatkan mutu gizi masyarakat miskin dengan meningkatkan pertumbuhan ekonomi karena dengan pertumbuhan ekonomi akan meningkatkan pendapatan keluarga. Peningkatan pendapatan keluarga akan mempunyai efek pada makanan (Alan Berg, 1985).

Rendahnya pendapatan merupakan rintanga lain yang menyebabkan orang-orang tidak mampu membeli pangan dalam jumlah yang diperlukan (Sajogyam dkk, 1993). Selain itu keanekaragaman bahan pangan kurang terjamin, karena dengan uang yang terbatas itu tidak akan banyak pilihan (Wied Harry Apriadji, 1986). Akan tetapi, menurut Suhardjo (1985), naiknya pendapatan pada umumnya cenderung meningkatkan jumlah jenis makanan, namun pengeluaran yang lebih banyak untuk pangan tidak menjamin beragamnya konsumsi pangan. Perubahan utama terjadi dalam kebiasaan makanan akibat pengeluaran uang yang lebih banyak ialah pangan yang dimakan itu lebih mahal.

Daya beli keluarga sangat ditentukan oleh tingkat pendapatan keluarga. Orang miskin biasanya akan membelanjakan sebagian besar pendapatannya untuk makanan. Rendahnya pendapatan merupakan rintangan yang menyebabkan orang¬orang tidak mampu membeli pangan dalam jumlah yang dibutuhkan. Ada pula keluarga yang sebenarnya mempunyai penghasilan cukup namun sebagian anaknya berstatus kurang gizi. (Sajogyo, 1994)

Pada umumnya tingkat pendapatan naik jumlah dan jenis makanan cenderung untuk membaik tetapi mutu makanan tidak selalu membaik (Suharjo dkk, 1986). Anak-anak yang tumbuh dalam suatu keluarga miskin paling rentan terhadap kurang gizi diantara seluruh anggota keluarga dan anak yang paling kecil biasanya paling terpengaruh oleh kekurangan pangan. Jumlah keluarga juga mempengaruhi keadaan gizi (Suhardjo, 2003).

2.5 Status Ekonomi Keluarga

2.5.1 Keluarga Miskin

Kriteria kemiskinan yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) yaitu:

a. Luas lantai bangunan tempat tinggal kurang dari 8m2 per orang;

b. Jenis lantai bangunan tempat tinggal terbuat dari tanah/ bambu/ kayu murahan;

c. Jenis dinding tempat tinggal terbuat dari bambu/ rumbia/ kayu berkualitas rendah/ tembok tanpa diplester;

d. Tidak memiliki fasilitas buang air besar/ bersama-sama dengan rumah tangga lain;

e. Sumber penerangan rumah tangga tidak menggunakan listrik;

f. Sumber air minum berasal dari sumur/ mata air tidak terlindung/sungai/air hujan;

g. Bahan bakar untuk masak sehari-hari adalah kayu bakar/ arang/ minyak tanah;

h. Hanya mengkonsumsi daging/ susu sapi/ ayam potong satu kali dalam seminggu;

i. Hanya membeli satu stel pakaian baru dalam setahun;

j. Hanya sanggup makan sebanyak satu/ dua kali dalam sehari;

k. Tidak sanggup membayar biaya pengobatan di Puskesmas/poliklinik;

l. Sumber penghasilan kepala rumah tangga adalah petani dengan luas lahan 0,5ha, buruh tani, nelayan, buruh bangunan, buruh perkebunan, atau pekerjaan lainnya dengan pendapatan dibawah Rp. 600.000,00 per bulan;

m. Pendidikan tertinggi kepala rumah tangga: tidak sekolah/ tidak tamat SD/ hanya SD;

n. Tidak memiliki tabungan/ barang yang mudah dijual dengan nilai Rp. 500.000,00, seperti sepeda motor (kredit/ non kredit), emas, ternak, kapal motor, atau barang modal lainnya.



Dalam menentukan status kemiskinan seseorang yaitu dengan melakukan penilaian kondisi sosial ekonomi seseorang dengan 14 (empat belas) kriteria kemiskinan BPS tersebut, dengan ketentuan pokok bahwa seseorang disebut miskin bila memenuhi minimal 10 (sepuluh) kriteria kemiskinan BPS tersebut, dengan 5 (lima) diantara 10 (sepuluh) kriteria kemiskinan yang secara mutlak harus dipenuhi, yaitu:

a. Hanya sanggup makan sebanyak satu/dua kali dalam sehari;

b. Tidak sanggup membayar biaya pengobatan di Puskesmas/ poliklinik;

c. Pendidikan tertinggi kepala rumah tangga: tidak sekolah/ tidak tamat SD/ hanya SD;

d. Sumber penghasilan kepala rumah tangga adalah: petani dengan luas lahan 0,5 ha, buruh tani, nelayan, buruh bangunan, buruh perkebunan, atau pekerjaan lainnya dengan pendapatan dibawah Rp. 600.000,00 per bulan;

e. Tidak memiliki fasilitas buang air besar/ bersama-sama dengan rumah tangga lain;

f. Memiliki Kartu Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas) atau Jaminan Kesehatan Daerah (Jamkesda).

2.5.2 Keluarga Non Miskin

Untuk Keluarga non miskin adalah kelurga yang tidak termasuk dalam kriteria di atas. Pada Dinas Kesehatan Kabupaten Lumajang selain tidak memenuhi 14 kriteria tersebut diatas juga tidak mempunyai kartu jamkesmas ataupaun jamkesda.

2 comments:

Devi said...

sebelumnya saya sgt berterimakasih atas tulisan ibu ..
blh saya minta keterangan mengenai penelitian dewi (2008) mengenai status gizi berdasarkan jenis kelamin bu ?
ibu dapat linknya dari mana ?
terimakasih ya bu .

Dimaz Setiadi said...

Minta daftar pustakanya donk mba...

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Facebook Themes